Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hari-Hari Sukarno dan Mohammad Hatta

Bicara tentang Indonesia pasti bicara tentang sejarahnya. Salah satu bagian yang penting dari sejarah Indonesia tentu adalah kisah dua orang proklamator kemerdekaan Indonesia, yaitu Sukarno dan Mohammad Hatta.

Berikut ini urutan peristiwa yang berkaitan dengan Sukarno-Hatta:

Pada tanggal 6 Juni 1901, Sukarno lahir di Surabaya, Jawa Timur.

Pada tanggal 12 Agustus 1902, Mohammad Hatta lahir di Bukittinggi. Sumatra Barat.

 
Pada tahun 1920-an, Sukarno dan Mohammad Hatta sudah saling mengenal dan mengagumi.

Pada tahun 1931, Mohammad Hatta pertama kali bertemu secara langsung dengan Sukarno. Hatta belum lama pulang dari Belanda dan Sukarno belum lama keluar dari penjara di Sukamiskin.

Pada tanggal 25 September 1932, Mohammad Hatta bertemu secara langsung untuk kedua kalinya dengan Sukarno di rumah Sukarno.

Pada bulan Maret 1942, malam hari, Sukarno dan Mohammad Hatta bersepakat untuk meninggalkan perbedaan di antara mereka dan bersatu di dalam perjuangan bersama.

Pada tahun 1943, Perdana Menteri Jepang Hideki Tojo mengundang tokoh Indonesia yakni Sukarno, Mohammad Hatta, dan Ki Bagoes Hadikoesoemo ke Jepang dan diterima langsung oleh Kaisar Hirohito. Bahkan kaisar memberikan Bintang kekaisaran (Ratna Suci) kepada tiga tokoh Indonesia tersebut.

Pada tanggal 22 Juni 1945, Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) membentuk panitia kecil yang disebut Panitia Sembilan dengan tugas mengolah usul dan konsep para anggota mengenai dasar negara Indonesia. Panitia kecil itu beranggotakan 9 orang. Dua orang anggotanya adalah Sukarno dan Mohammad Hatta.

Pada tanggal 9 Agustus 1945, Jenderal Terauchi memanggil Sukarno, Mohammad Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat ke Dalat, Saigon (Vietnam).

Pada tanggal 12 Agustus 1945, Sukarno, Mohammad Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat ke Dalat bertemu Marsekal Terauchi yang menegaskan Jepang akan menyerahkan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia.

Pada tanggal 14 Agustus 1945, Sukarno, Mohammad Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat kembali ke Indonesia. Sutan Syahrir mendesak Sukarno Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Pada tanggal 15 Agustus 1945, Golongan muda mendesak Sukarno segera memproklamasikan kemerdekaan paling lambat 16 Agustus 1945. Sukarno menolak karena ingin meminta pendapat para anggota PPKI.

Pada tanggal 16 Agustus 1945, dini hari, Sukarno dan Mohammad Hatta diculik oleh golongan muda ke Rengasdengklok Karawang dan dipaksa segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia melalui radio.

Pada tanggal 16 Agustus 1945, malam hari, Sukarno dan Mohammad Hatta kembali ke Jakarta. Di rumah Laksamana Maeda Tadashi para tokoh nasional berkumpul untuk berunding tentang persiapan proklamasi kemerdekaan RI.

Pada tanggal 16 Agustus 1945 dan 17 Agustus 1945, malam hingga pagi Sukarno dan Mohammad Hatta bersama golongan muda dan golongan tua membahas perumusan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Pada tanggal 17 Agustus 1945, pada pukul 10 pagi, Sukarno dan Mohammad Hatta membacakan teks naskah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur 56.

Pada tanggal 18 Agustus 1945, Sukarno dan Mohammad Hatta diangkat oleh PPKI menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia.

Pada tanggal 29 Agustus 1945, pengangkatan Sukarno dan Mohammad Hatta menjadi presiden dan wakil presiden dikukuhkan oleh KNIP.

Pada tahun 1945, Soekarno menemui sahabatnya, Abdul Rachim dan Annie Rachim. Soekarno bermaksud meminang putri mereka, Rahmi Rachim, untuk Mohammad Hatta Hatta.

Pada tanggal 18 November 1945, Mohammad Hatta Hatta menikah dengan Rahmi Hatta. Tiga hari setelah menikah, mereka bertempat tinggal di Yogyakarta.

Pada tanggal 19 Desember 1948, Sukarno dan Mohammad Hatta diangkut oleh tentara Belanda pada hari itu juga. Pada tahun yang sama, Bung Hatta bersama Bung Karno diasingkan ke Menumbing, Bangka.

Pada Februari 1970, Guntur, putra pertama Sukarno, hendak menikah tetapi ayahnya tidak dapat menjadi wali pernikahannya. Guntur kemudian meminta Mohammad Hatta menjadi wali pernikahannya dan Hatta bersedia.

Pada tanggal 19 Juni 1970, Mohammad Hatta menjenguk Sukarno di RSPAD Gatot Soebroto. Mohammad Hatta ada di dalam ruangan bersama Wangsa Widjaja, Meutia Hatta, dan Gemala Hatta.

Dalam buku Mengenang Bung Hatta (1988), Iding Widjaja Wangsa menuliskan kesaksian putri Bung Hatta, Meutia Hatta sesaat sebelum Soekarno wafat.

Dalam posisi tertidur, terlihat tetesan air mata jatuh dari mata Sukarno. Hatta memegang tangan dan memijat pelan kaki Sukarno. Tidak ada pembicaraan apapun di antara keduanya. Hanya pandangan mereka yang berbicara.

Hari itu (19 Juni 1970) adalah hari terakhir Mohammad Hatta bertemu secara langsung dengan Sukarno.

Pada tanggal 21 Juni 1970, Sukarno wafat pada pukul 07.00 pagi di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta.

Pada tanggal 14 Maret 1980, Mohammad Hatta wafat pada pukul 18.56 petang di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta setelah sebelas hari ia dirawat di sana.

Sumber:

Wikipedia: Soekarno.

Wikipedia: Mohammad Hatta

Kompas.com: Soekarno Jadi Comblang untuk Akhiri Masa Lajang Hatta.

Kompas.com: Mendidik Elite atau Rakyat.

Historia.id: Mereka Saling Menjaga: Kisah Persahabatan Sukarno-Hatta.

Historia.id: Guntur Sukarnoputra Menikah Tanpa Ayah.

Setneg.go.id: Membuka Catatan Sejarah: Detik-Detik Proklamasi, 17 Agustus 1945.

50 Tahun Wafatnya Bung Karno: Akhir Hidup dalam Kesepian.

Tirto.id: Perjumpaan dan Perpisahan Dwitunggal Sukarno-Hatta.

Kompas.com: Urutan Kronologi Peristiwa Sekitar Proklamasi Kemerdekaan.


Sumber foto: Wikipedia, Berkas:Presiden Sukarno; Wikipedia, Berkas: Mohammad Hatta 1950.

Diperbarui 25 Agustus 2020.


Posting Komentar untuk "Hari-Hari Sukarno dan Mohammad Hatta"