Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Wage Rudolf Supratman dan Indonesia Raya

Perayaan hari kemerdekaan Indonesia setiap tanggal 17 Agustus selalu identik dengan beberapa hal di antaranya adalah Proklamasi, Bendera Merah Putih, dan tentu lantunan lagu Indonesia Raya.

Lagu Indonesia Raya merupakan karya Wage Rudolf Supratman atau yang biasa dikenal dengan sebutan WR Supratman.

WR Supratman lahir pada 9 Maret 1903 di Purworejo, Jawa Timur. Ia anak dari pasangan Djoemeno Senen Sastrosoehardjo dan Siti Senen.




Profesi asli WR Supratman adalah seorang wartawan dan penulis buku. Namun, ia suka mencipta lagu, khususnya lagu-lagu perjuangan; mungkin ini karena dia hidup pada zaman pergerakan.

Pada Kongres Pemuda I 30 April-2 Mei 1926 yang ia hadiri, WR Supratman terkesan pada pidato yang disampaikan tokoh pergerakan nasional, M Tabrani dan Sumarto, yang berisikan cita-cita "Satu Nusa Satu Bangsa" yang digelari Indonesia Raya. Dia kemudian menyatakan kepada dua tokoh tersebut ingin membuat lagu sesuai isi pidato mereka dengan judul Indonesia Raya.

Lagu Indonesia Raya diperdengarkan untuk pertama kalinya pada malam penutupan Kongres Pemuda II yang bertepatan pada tanggal 28 Oktober 1928.

Untuk menghindari tekanan dari Belanda, lagu itu dimainkan hanya dengan instrumental biola WR Supratman tanpa lirik. Namun, teks lirik itu telah dibagikan kepada para hadirin sebelumnya.

Lirik lagu Indonesia Raya baru bisa didengar ketika rapat pembubaran panitia Kongres Pemuda II pada Desember 1928. Para peserta kongres menyambut hangat ketika lagu itu dimainkan, mereka meminta lagu itu dinyayikan kembali beserta liriknya.

Dolly Salim, gadis remaja putri sulung Haji Agus Salim, kemudian menyanyikan lirik lagu tersebut. Ini berasal dari penuturan Rosihan Anwar dalam bukunya Sejarah Kecil Petite Historie Indonesia Jilid 2. Ada juga versi lain yang mengatakan bahwa lagu Indonesia Raya ketika itu dinyanyikan kembali oleh sebuah koor.

Lagu Indonesia Raya diciptakan WR Supratman dalam tiga bait (stanza). Bait pertama lebih dihafal dan lebih sering dinyanyikan oleh masyarakat Indonesia, sementara bait kedua dan ketiga mungkin tidak banyak yang tahu.

Setiap bait (stanza) memiliki cerita masing-masing. Bait pertama tentang kebangkitan bangsa Indonesia, bait kedua tentang kedaulatan bangsa, dan bait ketiga tentang kemakmuran dan kesejahteraan bangsa Indonesia.

Pada 1930, pihak Belanda mengeluarkan larangan untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya karena alasan mengganggu ketertiban dan keamanan. Belanda terganggu dengan adanya lirik yang menggunakan kata "merdeka".

WR Supratman diinterogasi oleh Belanda dan mengaku tidak pernah menggunakan kata "merdeka" dalam lagu itu. Pada teks aslinya, kata yang ia gunakan adalah "mulia". Namun, ia menyebut bahwa lirik itu diganti oleh para pemuda menjadi "merdeka". Lagu Indonesia Raya akhirnya boleh dikumandangkan tetapi syarat hanya pada ruangan tertutup saja.

Pada 7 Agustus 1938, WR Supratman sempat ditangkap pihak Belanda karena lagu ciptaannya yang dianggap Belanda sebagai dukungan terhadap kebangkitan kekaisaran Jepang.

Namun, tuduhan tersebut tidak terbukti. WR Supratman akhirnya dibebaskan dari penjara. Tidak lama setelah ia pembebasannya, ia mengalami sakit keras yang membuatnya meninggal dunia.

WR Supratman belum sempat menyaksikan Indonesia merdeka. WR Supratman wafat di Surabaya, Jawa Timur pada 17 Agustus 1938 di usia muda, 35 tahun.

Referensi:

Kompas.com: Kisah Lagu Indonesia Raya dan Biola WR Supratman di Museum Sumpah Pemuda.

Kompas.com: Kisah Pencipta Lagu Indonesia Raya, Seorang Wartawan yang Tak Rasakan Kemerdekaan.

Historia.id: Jalan Panjang Indonesia Raya.

Wikipedia: Wage Rudolf Soepratman.

Sumber foto: Berkas foto WR Supratman.

Posting Komentar untuk "Wage Rudolf Supratman dan Indonesia Raya"